Resensi Film
Judul : Kawali
(Identitas Laki-laki Bugis)
Genre :
Film Dokumenter
Karya : Rustan
Produksi :Ethinic Film Production
Durasi :
20 menit,35 detik.
Film dokumenter yang satu ini memiliki ide yang tidak
biasa yakni Kawai,sebuah senjata tradisional yang memiliki andil yang sangat
besar dalam kebudayaan Bugis,tepatnya film ini bercerita mengenai Kawai yang merupakan identitas para laki-laki
bugis,bukan dari sudut pandang orang kebanyakan yang selalu mengarah pada pemikiran
mengenai kekerasan namun pada lambang suatu kebudayaan yakni kebudayaan bugis
yang dapat tercermin dalam sebilah kawai. Malalui penjelasan-penjelasan para ahli dalam film ini penonton dapat mendalami makna kawai
tersebut serta pengetahuan baru tentang proses pembuatannya, pembentukannya, jenis-jenis
kawai, dan sejarahnya. Serta pengupas tentang bagaimana hubungan erat antara
kawai dan budaya Siri dan Pesse masyarakat bugis.
Ternyata,bagi
masyarakat bugis terutama kaum laki-laki,kawai merupakan identitas mereka dalam
kehidupan sosial,ekonomi dan juga politik. Sejak kecil para laki-laki bugis
telah diberi kawai sebagai warisan keluarga mereka,dan jenis kawai yang
diberikan pada mereka di sesuaikan dengan sifat dan kerakter mereka dengan
harapan kelak mereka akan menjunjung siri
(harga diri )mereka serta keluarga mereka sesuai dengan makna kawai mereka.
Film dokumenter yang padat akan edukasi mengenai
kebudayaan bugis ini memiliki beberapa
kelemahan yakni pemfokusan pada info-info yang di berikan oleh para ahli yang
di sampaikan secara audio,hal tersebut mengebabkan visualisasi dalam film ini
hanya terkesan sebagai penambah/pemanis.Namun karena informasi yang diberikan
sangat padat dan jelas sehingga hal ini tidak terlalu bermasalah,kekurangan
lainnya menurut Ujar suradi Mappangara iyalah “di beberapa scine terdapat
beberapa pengambilan gambar yang kurang sesuai dengan inti film misalnya pada
penggunaan alat-alat modern yang kurang mencerminkan nilai dokumenter dari film
ini” “setiap jaman memiliki persoalannya masing-masing” lanjut salah satu dosen
Sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin ini. Selain kekurangan terdapat juga banyak kelebihan
dalam film ini yakni pengambilan ide yang sangat orisinal dan berpengaruh
terhadap mahasiswa terutama mahasiwa yang selama ini berfikir bahwa kawai
(badik)pada masyarakat bugis tidak memiliki nilai budaya melainkan hanya bentuk
pertahanan diri
Bagaimanapun film karya putra bugis ini merupakan salah
satu film yang wajib kita tonton untuk memperdalam pengetahuan kita mengenai
kawai, budaya siri dan pesse pada masyarakat bugis.
Hal menarik dari pemutaran perdana film ini iyalah
diadakannya diskusi serta bedah fim setelahnya,bedah film dan diskusi ini
menghadirkan Rustan selaku pembuat film,Suradi Mapppangara (dosen Sejarah
Fakultas Sastra),serta Bang Sony Dosen ….. jurusan Ilmu komunikasi UH.
Dalam diskusi ini,Rustan menyampaikan beberapa gagasan
serta informasi mengenai film yang dibuatnya ini,sementara Bapak Suradi dan
Bang Sony masing-masing meninjau film dari segi sejarah serta penggunaan Audio
Visual sebagai media penyampaian pesan. Bagi Suradi Kawali yang sebelumnya
menjelaskan mengenai sejarah Kawali sendiri. Ia mengatakan bahwa Kawali
nemiliki nilai dan pesan yang harus para laki-laki bugis junjung “bukan
ujungnya tapi semangatnya” ujarnya. Sementara Bang sony lebih menekankan pada
hal teknis film ini sendiri,baginya film ini masi memerlukan beberapa
peninjauan kembali karena penggalian ide pada kawali ini barulah pada
‘permukaannya’ saja,meski demikian Ia menghargai Rustan yang telah berfikir
untuk mebuat sebuah film dokumenter yang dapat menjadi alat pelestarian budaya
ini.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar