about me

i love all simple and sexy things.

Senin, 09 September 2013

hari spesial..
oke,ini ultahku (lagi)tapi yang ke hmmm... 19.. hiks tua..

kali ini spesial sekali,
bukan karna ultahku bertepatan dengan ultah SBY,
hmm.. bukan karena  di ultah ku kali ini papa menelpoku subuh-subuh cuma mau bilang 'selamat ulang tahun annakku,minta hadiahnya di mama yah' kerna biasanya Ia bahkan tidak mengingat ulang tahunku,bukan karena mama yang mengadakan syukuran di rumah di timika nun jauh di sana untuk ultahku,meskipun kadang Ia masih lupa apakah aku sebenarnya lahir tanggal 4 atau tanggal 9 september.
okey,itu cukup istimewa, hmmm...bukan karena suprise nya... tapi karena kalian ada di sini, bukan tapi rasanya hari ini aku lebih hidup,penuh emosi.. rasanya bersama kalian aku tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain,tidak perlu berpura-pura tertawa,menangis,dan menjaga image,aku dapat menjadi diriku sendiri,hmmm.. benar-benar hidup,sungguh.
trima kasih kalian.

Minggu, 08 September 2013

Resensi Film
Judul       : Kawali (Identitas Laki-laki Bugis)
Genre      : Film Dokumenter
Karya       : Rustan
Produksi    :Ethinic Film Production
Durasi       : 20 menit,35 detik.
            Film dokumenter yang satu ini memiliki ide yang tidak biasa yakni Kawai,sebuah senjata tradisional yang memiliki andil yang sangat besar dalam kebudayaan Bugis,tepatnya film ini bercerita mengenai  Kawai yang merupakan identitas para laki-laki bugis,bukan dari sudut pandang orang kebanyakan yang selalu mengarah pada pemikiran mengenai kekerasan namun pada lambang suatu kebudayaan yakni kebudayaan bugis yang dapat tercermin dalam sebilah kawai. Malalui  penjelasan-penjelasan para ahli dalam  film ini penonton dapat mendalami makna kawai tersebut serta pengetahuan baru tentang proses pembuatannya, pembentukannya, jenis-jenis kawai, dan sejarahnya. Serta pengupas tentang bagaimana hubungan erat antara kawai dan budaya Siri dan Pesse masyarakat bugis.
Ternyata,bagi masyarakat bugis terutama kaum laki-laki,kawai merupakan identitas mereka dalam kehidupan sosial,ekonomi dan juga politik. Sejak kecil para laki-laki bugis telah diberi kawai sebagai warisan keluarga mereka,dan jenis kawai yang diberikan pada mereka di sesuaikan dengan sifat dan kerakter mereka dengan harapan kelak mereka akan menjunjung siri (harga diri )mereka serta keluarga mereka sesuai dengan makna kawai mereka.
            Film dokumenter yang padat akan edukasi mengenai kebudayaan bugis ini memiliki  beberapa kelemahan yakni pemfokusan pada info-info yang di berikan oleh para ahli yang di sampaikan secara audio,hal tersebut mengebabkan visualisasi dalam film ini hanya terkesan sebagai penambah/pemanis.Namun karena informasi yang diberikan sangat padat dan jelas sehingga hal ini tidak terlalu bermasalah,kekurangan lainnya menurut Ujar suradi Mappangara iyalah “di beberapa scine terdapat beberapa pengambilan gambar yang kurang sesuai dengan inti film misalnya pada penggunaan alat-alat modern yang kurang mencerminkan nilai dokumenter dari film ini” “setiap jaman memiliki persoalannya masing-masing” lanjut salah satu dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin ini. Selain  kekurangan terdapat juga banyak kelebihan dalam film ini yakni pengambilan ide yang sangat orisinal dan berpengaruh terhadap mahasiswa terutama mahasiwa yang selama ini berfikir bahwa kawai (badik)pada masyarakat bugis tidak memiliki nilai budaya melainkan hanya bentuk pertahanan diri
            Bagaimanapun film karya putra bugis ini merupakan salah satu film yang wajib kita tonton untuk memperdalam pengetahuan kita mengenai kawai, budaya siri dan pesse pada masyarakat bugis.
            Hal menarik dari pemutaran perdana film ini iyalah diadakannya diskusi serta bedah fim setelahnya,bedah film dan diskusi ini menghadirkan Rustan selaku pembuat film,Suradi Mapppangara (dosen Sejarah Fakultas Sastra),serta Bang Sony Dosen ….. jurusan Ilmu komunikasi UH.

            Dalam diskusi ini,Rustan menyampaikan beberapa gagasan serta informasi mengenai film yang dibuatnya ini,sementara Bapak Suradi dan Bang Sony masing-masing meninjau film dari segi sejarah serta penggunaan Audio Visual sebagai media penyampaian pesan. Bagi Suradi Kawali yang sebelumnya menjelaskan mengenai sejarah Kawali sendiri. Ia mengatakan bahwa Kawali nemiliki nilai dan pesan yang harus para laki-laki bugis junjung “bukan ujungnya tapi semangatnya” ujarnya. Sementara Bang sony lebih menekankan pada hal teknis film ini sendiri,baginya film ini masi memerlukan beberapa peninjauan kembali karena penggalian ide pada kawali ini barulah pada ‘permukaannya’ saja,meski demikian Ia menghargai Rustan yang telah berfikir untuk mebuat sebuah film dokumenter yang dapat menjadi alat pelestarian budaya ini.
Mahasiswa Butuh Pesta

            Sejak pertama menginjakkan kaki dibangku kuliah di Universitas Hasanuddin ini,ada sebuah slogan yang sering disampaikan saat pemberian  sambutan  pada mahasiswa baru  Fakultas Ilmu social dan Ilmu politik. Slogan tersebut yakni ‘kehidupan mahasiswa penuh dengan buku,pesta dan cinta,yang berarti senin hingaa jumat mahasiswa ‘berkuak’ dengan buku,lalu pada hari sabtu dan muinggu  waktu untuk cinta dan pesta. Jadi rasanya bukan hal yang salah jika Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOSMIK) mengadakan KOSMIK Terrace Party (KTP).
“tujuan dari diadakannya acara ini untuk merefresh otak-otak mahasiswa kosmik setelah disibukkan dengan aktifitas kuliah dan juga sebagai ‘tempat’ apresiasi seni mahasiswa kosmik yang berbakat dibidang seni.” Ujar Wira Yudha Satria selaku ketua panitia KTP . Menurut Mahasiswa anggakatan 2011 ini dalam acara KTP nanti  rencananya akan menampilkan  tarian,persembahan music dari anak-anak kosmik,makan bersama dan masik banyak lagi.
            KOSMIK Terrace Party (KTP)  yang akan diadakan tanggal 31 Mei  mendatang, menyusung tema  ‘90 to now’ yang akan menunjukkan kejayaan musik-musik tahun 90an yang masih memiliki peminat hingga saat ini,terutama di kalangan mahasiswa. Dengan tema tersebut jelas memperlihatkan bahwa KTP bukan hanya sekedar pesta-pesta yang tidak memiliki nilai sama sekali seperti presepsi  masyarakat luas terhadap pesta-pesta yang diadakan mahasiswa selama ini.
Setelah melawati banyak aktifitas perkuliahan yang penuh dengan tugas dan semacamnya mahasiswa layak untuk menyegarkan kembali pikiran mereka,dan salah satu solusinya adalah pesta. Namun,jenis pesta yang dimaksud yakni pesta yang positif seperti KTP ini. Namun,terkadang justru mahasiswalah yang menempatkan makna ‘pesta’ tersebut pada posisi yang salah dan tidak pada tempat yang seharusnya, misalnya mengadakan pesta dengan pesta miras (minuman keras)dan pesta narkoba. Oleh karena itu,peru adanya kasadaran mahasiswa serta pengawasan dari banyak pihak seperti orang tua wali dan pihak kampus. Selai pengawasan perlu juga adany pengarahan terhadap mahasiswa dan menindak lanjuti mahasiswa yang melanggar sacara tegas.

Jadi,untuk menikmati masa perkuliahan terkadang mahasiswa membutuhkan pesta,dan sebagai mahasiswa yang masuk dalam golongan masyarakat terpelajar mahasiswa harusnya dapat menempatkan diri serta membedakan mana pesta yang positif serta yang negative bagi diri mereka,keluarga,kampus,serta lingkungan dan tidak terlibat dalam berbagai kegiatan yang tidak bernilai sama sekali.
BCOP
Suka memotret?berminat pada dunia Fotografi?
Buat kalian yang menjawab ‘ya’ untuk dua pertanyaan diatas,wajib tahu tentang kegiatan KOSMIK yang satu ini. Basic Course of Photography atau BCOP ini merupakan agenda tahunan yang di adakan oleh biro KIFO (Kine dan Fotografi) dan bertjuan untuk memberi pelatihan fotografi kepada warga KOSMIK maupun mahasiswa lain di luar KOSMIK yang memiliki keinginan untuk mempelajari lebih dalam mengenai fotografi.  
Oh iya buat teman-teman  pemula yang baru mengenal dunia fotografi  tidak perlu minder karena di BCOP ini teman-teman akan belajar fotografi mulai dari dasar,yakni mulai dari cara memegang kamera yang baik dan benar,jenis-jenis kamera,komponen-komponen kamera,tips dan trik membeli kamera DSLR,sampai pelatihan tingkat lanjut seperti bagaimana pengaturan speed,focus,ISO,dan pengambilan angel yang cocok saat eksekusi (memotret),serta mempelajari tentang foto jurnalistik.
Di BCOP ini juga kita tidak sekedar di ajarkan  teori-teori fotografi namun kita juga belajar mempraktekkannya, misalnya,pada BCOP sebelumnya yang diadakan pada tanggal 14-15 juni lalu yang berlangsung selama dua hari,pada hari pertama peserta  mempelajari teorinya dan pada hari kedua bersama-sama mengunjungi Pelabuhan Phinisi Paottere serta Benteng Rotterdam untuk mempraktekkan ilmu yang telah di pelajari sebelumnya,dalam proses ini peserta di bimbing oleh senior-senior serta beberapa pemateri yang telah berpengalaman dalam bidang fotografi.

             Setelah mengikuti BCOP ini tidak hanya pengetahuan teman-teman mengenai fotografi yang semakin bertambah namun pandangan mengenai dunia fotografi yang menjadi semakin luas,kita jadi tahu perbedaan antara fotografer profesional dengan fotografer yang hanya tau memotret,juga mengetahui mengenai foto jurnalistik,jenis-jenis foto serta kriteria foto dapat dikatakan bagus,baik dan bermakna.